Beranda > Sosial > Ulama Ahli Falak NU Pun Protes Hasil Sidang Isbat Pemerintah

Ulama Ahli Falak NU Pun Protes Hasil Sidang Isbat Pemerintah

22 Juli 2012

image

Masih tentang sidang isbat pemerintah. Membaca berita di salah satu media islam; Eramuslim.com seolah kian menegaskan seperti apa dibalik keputusan sidang isbat kementrian agama. Benarkah demi menjaga gengsi ataupun harga diri pemerintah dalam hal ini kementrian agama rela menggadaikan kebenaran? Hmm… Entahlah…

Yang jelas seorang ulama NU sendiri yaitu Syech Misbachul Munir Alfalakiy atau Mbah Munir mempertanyakan hasil sidang isbat pemerintah.. Mbah munir adalah pakar ilmu falak Internasional yang juga sempat menjadi Lajnah Falakiyyah Pusat PBNU. Mbah Munir protes karena pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1433 Hijriah jatuh pada 21 Juli 2012.

ASB kutip dari eramuslim.com bahwa Mbah Munir berpendapat, dalam hitungan ilmu falak jatuhnya awal Ramadan Jumat 20 Juli 2012. Perhitungan itu berdasarkan sembilan dari 10 kitab popular ilmu falak yaitu Kitab Nurul Anwar Badingatul Nisa, Kitab Minhajurroh Shoddin, Kitab Arrisalatul Falakhiyakiyah, Kitab Huluhul Wathor, Kitab Umdhatutholib, Kitab Rouful Manan, Kitab Risalatul Khomar dan Kitab Sulamun Naiyreni.

Sementara Muhammadiyah dalam hitunganya menggunakan teori dan pengetahuan hisab hakiki. Metode itu tidak memerlukan rukyat atau melihat hilal.

“Sebelumnya saya sudah tahu 1 Ramadan 1433 jatuh dua hari Jum’at Kliwon dan Sabtu Legi. Tidak perlu ambil kepusingan tanggal saya 1 Ramadan Jumat Kliwon dengan ketinggian ikwanul rukyat diikmalkan tidak bisa. Digenapkan 30 hari malah salah. Falak populer ada 10 dari 9 kitab, lima di antaranya menerangkan sudah bisa ditetapkan. Maka, 1 Ramadan tetap Jumat Kliwon 20 Juli. Kalau Muhamamdiyah tiga bulan sebelum datangnya puasa, salah seorang pengurus Majelis Tarjih PP Muhamamdiyah sudah menghubungi saya,” kata Mbah Munir kepada merdeka.com di Ponpes Marzakul Falakiyah Dusun Semali, Desa Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sama seperti yang ASB tulis diartikel sebelumnya, Mbah Munir juga menyesalkan mengapa dalam pengamatan rukyat hilal ada salah satu jemaah di Cakung yang sempat melihat hilal bahkan disumpah tidak dijadikan bahan dan dasar untuk menetapkan jatuhnya 1 Ramadan 1433 H.

“Selain dari sembilan kitab yang ada menyatakan sudah dua derajat lebih sudah ikmalkan untuk rukyat. Maka satu Ramadan 1433 Hijriah tetap jatuh pada Jum’at Kliwon 20 Juli 2012. Dalam proses melihat hilal, pada prosesnya ada salah satu tepatnya, di Cakung, Jakarta melihat hilal.
Kenapa proses melihat hilal ini tidak diakui bahkan dikesampingkan begitu saja? Ini politik dan gengsinya pemerintah dalam siding isbat kemarin,” ujar dia.

Mbah Munir menceritakan, sejarah Nabi Muhammad SAW, dalam penetapan 1 Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, seorang kaum kafir pun yang memberi informasi melihat hilal, nabi langsung menetapkan jatuhnya puasa dan lebaran berdasarkan pengakuan kaum kafir itu.

“Politik dan gengsi. Mengapa sudah melihat bulan saat rukyat hilal ditolak yang di Cakung? Apakah itu sudah betul? Nabi tidak begitu caranya. Nabi ada orang kafir tahu tanggal, nabi saya tahu tanggal dan melihat hilal. Nabi langsung ngomong; Wes sesuk bodho(Ya sudah besok lebaran).  Saya orang NU sama dengan Muhammadiyah wes biar. Sehingga tanggalan saya dan santri saya 1 Ramadan jatuh 20 Juli dan hari ini saya sudah puasa,” jelasnya.

Mbah Munir berharap, sidang isbat yang dilakukan pemerintah harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengamatan. Dua metode untuk menetapkan jatuhnya hari pertama dimulainya puasa itu tidak dapat ditinggalkan.

Seharusnya, awal penetapan Ramadan tidak didasarkan pada kemenangan dan dukungan banyaknya suara dalam forum yang mendukung suara puasa dijatuhkan pada 21 Juli 2012 tetapi berdasarkan dua metode yaitu perhitungan ilmu falak dan pengamatan hilal.

=================

ABDI SUHAMDI’s Blog

Tidak menemukan artikel yang anda cari? KLIK disini :

About these ads
  1. 24 Juli 2012 pada 04:14 | #1

    nice post gan..
    penentuan 1 ramadhan bisa dipolitisasi emang pemerintahan yg gagal

  2. 24 Juli 2012 pada 07:46 | #2

    lihat donk di http://www.calculatorcat.com/moon_phases/moon_phases.phtml

    insya allah ini real time, kalo tidak salah saya lihat. Kejadian 1% penampakan bulan terjadi di hari Jum’at pagi Jam 8:00.

    Jadi hampir mustahil kita yang di indonesia melihat hilal dengan mata pada masuk malam jum’at tgl 29 sya’ban / 19 Juli 2012.

    Bila kita tidak melihat hilal pada malam permulaan hari, maka akan digenapkan menjadi 30 hari.

    • Paijo
      24 Juli 2012 pada 08:19 | #3

      Kalau sudah pasti tidak bisa dilihat, kenapa harus di rukyat?? Akhirnya yg ngerukyat bersumpah bisa melihat bulan nda dianggep kan?? Kenapa ndak langsung di tetapkan saja??
      Memang rukyat dan sidang itsbat itu hanya basa basi yang keputusannya sudah ada sebelumnya.

      • white demon
        18 Agustus 2012 pada 07:52 | #4

        ya emank udah tau mas.. kan yang penting THR 7M nya ituu looh $_$

        duit sape tuh ya yang dibuat gituan. u.u

  3. 24 Juli 2012 pada 16:01 | #5

    inilah yang namanya Syariat, kudu dilihat…. agama ini mudah kok… ngga usah dipersulit…..
    Bila ngga kelihatan… digenapkan manjadi 30 hari…gampang toh.
    Yang lucu adalah… ada yang bisa melihat & disumpah lagi…. bagaimana caranya & yang dilihat itu apa ????…..
    apalagi pake hitungan…. hitungan pun salah hari lagi seharusnye hari sabtu… kok ditetapkan hari Jum’at…
    Gimana ?
    manusia bisa berkehendak…. Allah yang memutuskan….

    • white demon
      18 Agustus 2012 pada 07:55 | #6

      statemen mu itu loh tanpa dasar.,

      buka lagi al quran n hadist nya boss!!

      waktu ada perbedaan pendapaat penentuan 1 ramadhan pada jaman Rasul. ada SATU orang arab BADUI. bilang dia lihat hilal. kemudian Rasul menyumpahnya. setelah disumpah Rasul mengumumkan esoknya untuk berpuasa.

      kalo di Indo, yang liat segitu banyak tetep aja ga dihirauin.
      u.u

  4. tapenk
    25 Juli 2012 pada 11:48 | #7

    malah podo ribut………. wes berdoa aj ad penyelesaiannya………. kita sebagai makmum jangan saling berargumen…. berdoa smoga bisa sama tuk tahun2 ke depan, masih banyak yg lebih penting seperti pelurusan Akidah dari pada ribut penentuan kemarin….. Ingat sejarah Islam terpecah…,ukhuwah lebih penting………….., bukti munculnya Buku dari ki idraham itu yang patut diwaspadai…….

  5. Paijo
    26 Juli 2012 pada 13:21 | #8

    Jaman sekarang, gerhana bulan dan matahari saja sudah di ketahui jauh2 hari sebelumnya, bahkan sampai tanggal, jam, menit dan detiknya…
    Jadi klo hanya mengetahui posisi matahari, bumi dan bulan pada saat matahari terbenam, jelas bukan perkara yang sulit, jelas sangat2 gampang…
    Jadi, bulan bisa di rukyat atau tidak sudah bisa di tentukan…
    Seperti kemaren, pemerintah dan lapan sudah sangat tahu kalo bulan tidak akan bisa di rukyat…
    Akhirnya begitu ada yg bersumpah bisa melihat bulan, jadilah perdebatan dan penentangan spt kmrn….
    Apakah hal seperti itu yg di inginkan??

    • white demon
      18 Agustus 2012 pada 07:57 | #9

      nah tuh betul.. betul.. betul…

  6. 26 Juli 2012 pada 14:14 | #10

    Masalah rukyat kemaren. Bukankah kemaren hilal sudah terlihat tapi posisinya masih dibawah 2°. Jadi jika dibawah 2° maka belum bisa dilihat. Belum bisa dilihat, bukan berarti tidak ada. Jika digenapkan 30 hari malah salah karena jika jum’at malam dirukyat lagi derajadnya malah berlebih bisa jadi 12° mungkin. Kalau mau mengandalkan sistem rukyat carilah telescop/teknologi yg bisa melihat hilal dibawah 2°.

  7. 26 Juli 2012 pada 16:09 | #11

    ngga mungkin 12 derajat kali,…. lah wong Kejadian 1% penampakan bulan terjadi di hari Jum’at pagi Jam 8:00…atau 0.02 derajat..mustahil dilihat….hehehe
    bagaimana bisa 12 derajat ???…. ngga usah dibuat susah lah…. ngga kelihatan…. tinggal bulatin doang kokmenjadi 30 hari…. gitu aja kok repot..

    Coba lihat sekarang ini di http://www.calculatorcat.com/moon_phases/moon_phases.phtml posisi bulan baru 50% belum bulan purnama…..

  8. Mustofa Ahda
    26 Juli 2012 pada 21:46 | #12

    walah2 kalian neh cari biar bareng tuh gmn malah nganggep masing2 benar….. jangan masalah sepele menjadikan perpecahan…………. negara punya ahli falak juga klo bulan dah wujud dibawah 2 derajat….. tapi negara kan pake rukyat…. n blum kelihatan……. kta orang awam jgan bertengkar disini jaga ukhuwah antara muslim

  9. 27 Juli 2012 pada 09:56 | #13

    Bro Adi dan paijo seru banget…kagak bakal selesai karena patokan Muhammadiyah adalah Al Qur’an (berikut tafsirnya) terkait penggunaan dalil pengetahuan, dan penafsiran dalil Nabi untuk memperhitungkan. Sedangkan dalil NU dan temen2 salafi (entah salafi yang blok mana) mengikuti dalil Al Qur’an (ikut ulil amri…walaupun juga dipertetangkan makna ulil amri apakah penguasa Islam ataukah penguasa demokrasi saat ini) dan dalil Nabi ”melihat’. Nah, ane tanya bung Adi atau paijo atau lainnya 1. asbab wurud dan asbab Nuzl Dalil2 tersebut???; 2. Riwayat Badui yg melihat hilal (tentu saja tidak dinafikan kudu sekian derajat, atau harus dengan syarat ketat bla..bla…karena jaman Rasul dulu banyak yg masih ummi), riwayat tsb derajat kesahihannya bgmn? kemudian para rawinya bagaimana (tsiqahkah atau mursal?); 3. bro Adi antum juga hendaknya melihat bahwa ilmu pengetahuan itu rumusnya banyak, misal dalam dunia medis itu ada kemungkinan anak muncul laki atau perempuan itu 1:3, tetapi dapat diperkirakan bahwa tiap pasangan suami-istri akan memiliki keturunan laki/perempuan meski pada kelahiran yg keberapa, wallahu ‘alam. Sehingga sah-sah saja ada perbedaan, NAH disinilah letaknya menghargai ‘ijtihad’ dari masing-masing fikrah/harakah/aliran/ormas/lainnya selama masih ada pegangan yang dipertanggungjawabkan. Demikian metode ‘meneropong’ atau rukyat (bahasa kerennya), juga visibilitasnya penuh kekurangan, makanya Rasulullah memerintahkan ‘genapkan’ karena tidak ingin membebani ummatnya dahulu karena kalo diminta dengan detil tentu akan terjadi perpecahan. Antum tahu mengapa kaum munafikin yang JELAS-JELAS membuat kerusakan dalam barisan Islam saja tidak diperintahkan Rasul untuk di’sikat’? (lihat Al Bidayah w Nihayah) karena beliau tidak ingin ummat Islam pecah dan terlihat di kalangan ahl kitab/musyrikin bahwa Rasul membantai ummatnya sendiri!!! demikian pula kaidah yg harus dipegang ummat saat ini, hendaklah saling menghargai. INGAT Saudaraku, selama AQIDAH (yg tiga itu) dan KEIMANAN (yg enam itu) Masih SAMA….Maka Ikatlah Tangan kita sesama muslim untuk selamanya, ibarat satu tubuh dimana satu bagian sakit tentu bagian lain akan merasakannya. Memahami Sunnah memang banyak pertentangan antara satu dengan lainnya, karena para sahabat adalah manusia biasa, nah kaidah dikembalikan kepada Al Qur’an tentu akan lebih menentramkan ummat Islam; 4. Bagi yang berfikrah salafi, pada hakikatnya sudahkah tabayyun atau menasihati pemerintah secara LANGSUNG!!! seperti halnya para ulama salaf/ulama mahdzab dulu ketika menyampaikan langsung nasihat kepada penguasa Daulah saat itu??? ataukah hanya berteriak2 di daurah2??? Untuk saudaraku di parlemen dengan basis massa Islam, sudahkah terwarnai parlemen??? ataukah sikap pragmatisme malah mewarnai diri sendiri??? Janganlah policy berubah-ubah dengan dalil persatuan ummat dengan mengikuti pemerintah sedangkan di sisi lain ikut mendirikan hizb atau menolak kebijakan ‘baik’ pemerintah…lha bagaimana ini??? Sudahlah, kita terlalu lelah membahas perseteruan ini, besok penentuan syawal, penentuan ied Adha, penentuan lain..bla..bla…akan terus menerus ‘congkrah’……kelu mendengar (di masjid tetangga ane, ada pengurus takmir dikeluarkan tidak hormat gara-gara beda sholat tarawih???)…separah inikah politisasi ajaran Islam yang mudah dan indah??? mungkin ini realitas yg tengah terjadi seperti yang disampaikan Rasulullah, bagai buih di lautan, saling terjadi pembunuhan dan fitnah akhir zaman….jikalau ini merupakan periode akhir zaman guna menanti Isa al Masih dan Imam Mahdi…ane berlepas diri dari semua percekcokan, sebagaimana Rasulullah ber’khalwat’ di gua hira…karena ane tidak ingin memakan bangkai saudara sendiri dan tidak ingin ‘berserah diri’ pada segolongan orang yang ‘berkepentingan’ selain untuk Allah Ta’ala….Wallahu Musta’an.

  10. Paijo
    27 Juli 2012 pada 10:21 | #14

    Kalau saya pribadi sih, masih sreg dengan rukyat hilal, tapi rukyat hilal dunia islam, bukan rukyat hilal pemerintah indonesia yg sudah terkenal korup….
    Jadi dunia islam itu satu, bukannya menurut islam indonesia, menurut islam arab saudi, menurut islam afrika selatan, dll….
    Demikian terima kasih atas pencerahannya…

  11. Imam Nawawi
    27 Juli 2012 pada 15:49 | #15

    ealah… mbah munir dadi muhammadiyah ta… ^_^

  12. Oyess
    27 Juli 2012 pada 22:09 | #16

    Ya kalau namanya cari kebenaran itu tak perlu lihat ormasnya. Baik itu muhammadiyah, nu, persis, fpi. Atau yg lain mungkin kebetulan mbah munir NU Tapi keyakinan menentukan sama dgn ormas lain. Jgn menghina islam lain saudaraku, jgn2 yg kau hina lebih baik dan lebih benar dr pd dirimu. Apalagi masalah puasa. Mungkin kalian benar menentukan awal puasa tapi apakah sdh kalian fikir bahwa puasamu diterima ALLAH SWT. Siapa Yg puasa jum’at atau sabtu yg bisa menjamin puasanya di terima oleh Allah swt?, bukankah diterima dan tidaknya puasa adalah hak Allah. Percuma kalau puasa tp msh ada rasa dendam,benci, marah,krn perbedaan, lebih2 sesama muslim. Katanya kita semua ahli sunnah wal jamaah ttp knp mengamalkan 1 hadist kita belum bisa’ UMAT ISLAM ITU BERSAUDARA. Apakah ahli sunnah wal jama’ah itu hanya di jadikan simbul, semboyan atau sejenisnya. Jd siapa yg akan masuk surga? Semboyannya atau manusianya?

  13. wongjowo
    28 Juli 2012 pada 14:51 | #17

    pokoke poso, pokoke bodo. makmum mung iso ngandul imam.

  14. xxx
    31 Juli 2012 pada 16:27 | #18

    mbh munir ganteng luar biasa imut bgt.. mbh munir the best bgt. lucu.. kulo ngefens bgt kalih jenengan mbh misbah.. hhh cra nyebarin ilmuny mbh misbah bedha dryg laen mbh kyai.. top bgt. i lup ju pull syekh misbakhul munir,

  15. 6 Agustus 2012 pada 16:40 | #19

    wah…wah… Jgn sampe terpecah belah deh islam krn beda pndpt…yang penting tetap bersatu….

  16. dadang k
    12 Agustus 2012 pada 11:23 | #20

    Kalo beda sehari diawal atau diakhir bulannya, ngga usah repot, kan ada puasa sunnah, niatkan saja untuk ganti kekurangan kalo ada. Dari pada nanti umat Islam copot-copot, akhirnya pada kempot yang bicaranya tidak jelas, pot..pot…pot. Bener tuh, ada yang koment mendingan perbaiki kualitas ibadah kita, khususnya ibadah shaum yang sedang kita jalani, selamat beribadah shaum, selamat sampai tujuan.

  17. Achmadi
    19 Agustus 2012 pada 14:37 | #21

    katanya semua itu kan ijtihad kalau salah pahalanya satu, kalau benar 2. Antara 11 rakaat dan 23 rakaat tarweh saja tak jadi masalah kita tetap rukun, suatu saat perbedaan awal 1 ramadlan, syawal, dan dulhijahpun kalau kita landasi saling menghormati perbedaan tentunya tak ada masalah, KECUALI ada pihak-pihak lain yang memang ingin mengobok-obok kerukunan umat Islam. Indahnya kerukunan dalam perbedaan. Kalau dulu kaum Ansor dan Muhajirin dapat bersatu dan rukun, kalau kita whay not ? ya semoga.

Komentar ditutup.
%d bloggers like this: